Monday, August 6, 2007

Hampir 40

Tidak terasa umur sudah hampir 40 thn. Perasaan, belum terlalu lama waktu kuliah di ITB. Masuk ITB tahun '88. Tahun pertama, semua mahasiswa yg baru masuk harus mengikuti TPB (Tingkat Persiapan Bersama?). Rasanya agak gede kepala juga waktu melihat spanduk di depan gerbang kampus ITB dng tulisan "Selamat Datang Putra - Putri Terbaik Indonesia". Perasaan waktu itu sangat bangga bisa kuliah di one of the best schools in the country. Tahun pertama di ITB, cukup menyenangkan, gabung sama teman2 dari berbagai jurusan dan juga belajar langsung dari pakar2 ilmu di Indonesia. Tinggal kost di Sawunggaling 8, rumah besar peninggalan orang Belanda (kalau tidak salah ada tulisan "t'veilig nest") bersama kakak2 saya. Rumahnya punya langit2 yang tinggi, desain arsitekturnya indah. Pokoknya bangunannya asri dan artistik. Masih ingat, ada turis dari Eropa yang ambil photo rumah kost-nya. Sampai sekarang, masih sering mengenang saat2 yg indah tinggal di tempat kost itu sebelum tidur atau pas kebeneran mau buang stress kalau mikirin kerjaan. Saya senang tinggal di Bandung yang indah, apalagi udara Bandung 20 tahunan yang lalu masih segar dan cukup dingin. Tempat kost ini kurang lebih mempunyai 50-an kamar dan mayoritas dihuni oleh mahasiswa2 (semua cowok) dari berbagai perguruan tinggi di sekitar Bandung Utara (ITB, Unpar, Unpad, Unisba, dan ATB). Masih ingat, ada beberapa tetangga adalah orang2 pinter kuliah di ITB, sering tanya juga kalau butuh bantuan pecahin soal Math yg susah. Ada beberapa yg ngambil kuliah dua, ITB Mesin dan Unpar Ekonomi kalau nggak salah. Bayangin aja, buat kita2 satu aja udah susah, eh ini kayaknya ambil dua relax aja... take it easy. Mereka datang dari berbagai kota di seluruh Indonesia. Banyak yang eksentrik dan kreatif.

Di sepanjang jalan Sawunggaling, kebanyakan adalah tempat kost dan rumahnya besar2 peninggalan Belanda. Kadang2 kita main ke tempat kost tetangga yang penghuninya adalah para mahluk halus, alias para mahasiswi. Karena kebetulan ada teman yang punya teman cewek kost di dua rumah sebelah tempat kost. Jadi ikutan lihat2, sebagai seorang pemuda 20-an, sungguh senang sekali bisa berkenalan dengan para mahasiswi yg umurnya sepantaran. Di samping itu, untuk cari makanan, tidak jadi masalah. Pasar Balubur cukup dekat dan banyak pedagang makanan di kaki lima di sepanjang jalan Taman Sari. Tahun 86-an, di jalan Taman Sari ada restoran enak dan murah ditujukan buat mahasiswa, namanya "Ina Joy". Makanannya enak dan tempatnya bersih. Apalagi kadang2 banyak mahasiswi2 yg juga makan. Maklum masih muda. Dengan Rp 500, bisa makan enak dan kenyang, juga kualitasnya bagus. Makanan favorite saya adalah ayam goreng kecap dan sayur asin, atau sambel goreng ati dan rujak buah segar. Air liur saya hampir menetes membayangkan makanan tsb. Beberapa tahun kemudian yg punya Ina Joy buka restoran baru namanya "Warna Sari", kalau tidak salah ada perselisihan dng pemilik yang lain. Di depannya Ina Joy ada restoran ayam bakar/goreng gaya Sunda, yang punyanya punya anak perempuan namanya Tuti, jadi saya sering namain restoran "Tuti". Ini juga enak, banyak mahasiswa yang makan. Kalau makan di restorannya (bukan untuk "to go") sambil makan bisa duduk di lantai (kaya panggung) menikmati pemandangan di bawah (daerah Wastukencana dan Cihampelas). Cukup indah. Kalau ingin yg lain, tinggal jalan sedikit ke arah Sulanjana, ada tukang soto ayam di pinggir jalan yang enak dan murah. Kalau mau naik motor, bisa pergi ke jalan Sultan Agung (deket sekali dng Jalan Dago) ada yang jualan ayam goreng di pinggir jalan. Wah, sedap sekali (...hampir ngiler lagi ngebayanginnya). Atau kalau mau makan kwetiau, bihun goreng, cap cai bisa pergi ke belakangnya BIP (Bandung Indah Plaza), lupa nama jalannya. Ini juga enak sekali. Tempatnya dipinggir jalan, banyak orang yang bawa mobil dan parkir sepanjang jalan makan di mobil. Banyak pasangan muda yg pacaran sambil menikmati makanan di mobil. Saya sih pakai motor Honda GL 79 tua yang butut, makan di kursi kayu panjang. Favorite saya capcai, makan dengan acar dan sambal pedas. Wah enak banget. Yang masak biasanya bapaknya, tapi karena ramai dan juga mulai tua. 2 anaknya mulai belajar dan bantuin. Tidak berapa lama kemudian 2 anaknya mulai ambil alih. Ibunya yang kirim makanan ke mobil2 dan narikin duitnya. Kalau sudah makan kita jalan2 ke BIP atau lihat2 buku di Gramedia jalan Merdeka. Kadang juga pergi ke Aquarius di perempatan Dago sama lupa lagi, pokoknya sebelah Gelael. Sungguh kenangan manis yang indah untuk dikenang.

Tetapi di 15 tahun terakhir waktu terasa cepat sekali berlalu. Mungkin karena terlalu sibuk kerja dan mencari uang untuk mencukupi biaya hidup. Mau coba perlambat sedikit irama hidup dgn mencoba hidup lebih relax dan merangkul hari yg dilalui ("seize the day"). Tidur dulu ah sudah setengah satu malam (dinihari), besok musti kerja. Bisa kesiangan bangunnya, mana belum mandi lagi. Sampai ketemu.